Jumat, 12 Oktober 2012

Pemimpin Pembaca Negeri


Oleh : Ni Luh Komang Surminiari
(SMAN Bali Mandara Sampoerna Academy)

 “Pemimpin adalah pembaca, pembaca adalah pemimpin”, demikianlah sebuah literatur mencoba mengungkapkan betapa pentingnya budaya membaca demi terwujudnya pemimpin yang dapat membaca “negara” serta “rakyatnya” yang mungkin sampai saat ini masih sulit ditemukan di negeri ini. Pemikiran hebat seorang pemimpin besar merupakan buah dari kegemaran membacanya. Akan tetapi, fakta dilapangan menyatakan bahwa budaya baca anak negeri masih sangat minim. Rendahnya minat baca di kalangan siswa pun tidak terlepas dari persoalan perpustakaan sekolah yang tidak cukup memadai. Padahal perpustakaan merupakan pusat sumber belajar untuk membina minat dan bakat siswa, menuju proses belajar sepanjang hayat (Long Life Education). Namun sayangnya, dari 200 ribu unit Sekolah Dasar di Indonesia, hanya 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar.[1] 
“Perpustakaan mengandung kebijaksanaan dari berbagai zaman”, sepertinya ungkapan sebuah literatur ini tak dapat dirasakan oleh siswa-siswi SDN 7 Kubutambahan, Bali, sebuah sekolah dasar dengan segala keterbatasan fasilitas yang dimilikinya. Sekolah dasar terpencil yang terletak di tengah gersang dan miskinnya Desa Kubutambahan ini merupakan salah satu sekolah dasar dengan kondisi perpustakaan yang sungguh memprihatinkan. Sebuah ruangan kotor, gelap dan sempit berukuran kira kira 6x4 m di sudut sekolah ini telah bertahun-tahun lamanya menjadi perpustakaan sekolah ini. Di dalam ruangan yang rasanya lebih etis disebut gudang ini, buku buku terbitan lama yang sebagian besar telah usang dan berdebu, tersusun rapi di dalam rak-rak buku tua. Perpustakaan tanpa pengelola ini setiap harinya hanya dikunjungi oleh berbagai jenis serangga yang kemudian bersarang disana.
Menurut penuturan salah satu siswa di sekolah ini, selama ia bersekolah di SDN 7 Kubutambahan, belum pernah terlihat ada siswa yang mengunjungi perpustakaan tersebut kecuali guru ataupun staff sekolah ini. Waktu senggang para siswa hanya dimanfaatkan untuk bermain bersama teman-teman sebaya, saling kejar di tengah halaman sekolah yang cukup luas ataupun hanya sekedar berbelanja di kantin sekolah. Pengetahuan umum siswa sekolah ini pun terbilang cukup sempit dan sangat memprihatin. Siswa siswi SDN 7 Kubutambahan tersebut sebagian besar berasal dari keluarga prasejahtera di sekitar wilayah Kubutambahan. Banyak diantara mereka yang memang tak bisa membeli buku-buku lainnya diluar buku paket pelajaran sehingga mereka hanya berpatokan pada buku paket pelajaran tersebut saat proses belajar mengajar. Padahal, tak sedikit dari mereka yang bercita-cita menjadi seorang yang sukses serta dapat mengabdi kepada nusa dan bangsa. Akan tetapi, pada akhirnya sekolah-sekolah di desa akan tetap menjadi sekolah yang terbelakang jika tak ada tindakan pasti yang diambil pemerintah
Hal inilah yang membuat Eagle House, Sampoerna Academy Bali memilih SDN 7 Kubutambahan sebagai target mereka dalam ajang Community Service Project Competition (CSPC) bulan Januari tahun 2012 lalu. CSPC merupakan suatu kompetisi yang diadakan oleh Putera Sampoerna Foundation yang bekerjasama dengan SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy), untuk melihat seberapa besar pengabdian serta konstribusi siswa Sampoerna Academy terhadap lingkungan sekitarnya. Antusias yang tinggi oleh para anggota Eagle House untuk memperbaiki fasilitas perpustakaan di SDN 7 Kubutambahan disambut sangat baik oleh kepala sekolah serta seluruh siswa di sekolah ini. Beberapa hari pertama, Eagle House mencoba mempercantik ruangan perpustakaan tersebut dengan mengecat ulang ruangan perpustakaan yang sebagian besar terbuat dari bedeng tersebut. Seragam penuh cat yang mereka gunakan tak membuat mereka lelah, malah semakin terlihat jelas semangat mereka yang menggebu-gebu. Hari selanjutnya mereka mencoba menata buku-buku serta memperbaharui buku buku tua di perpustakaan tersebut dengan buku-buku hasil sumbangsih siswa serta guru dan staff SMAN Bali Mandara (Sampoerna Academy). Bukan hanya itu, tim pengelola perpustakaan yang berasal dari kelas 5 serta kelas 6 juga sudah mulai diorganisir sehingga dapat memberi kelayakan serta kenyamanan membaca yang optimal bagi siswa SDN 7 Kubutambahan.
Senyum dan tawa tergambar jelas di wajah murid murid kelas satu kala itu, saat mereka beramai-ramai mengambil buku cerita bergambar dari rak-rak buku. Meski lebih banyak siswa yang hanya membuka halaman per halaman hanya untuk melihat gambar saja, namun tak sedikit pula siswa yang benar-benar serius membaca. Perpustakaan ini sangat diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa, terutama siswa di SDN 7 Kubutambahan. Sehingga di kemudian hari nanti dapat diciptakan pemimpin yang dapat memberikan hati nurani, pikiran dan waktu mereka sejenak untuk memandang negeri tidak sekedar mengenal sampul, tetapi sampai kedalam isinya, serta membuka mata lebar-lebar pada kehidupan nyata rakyatnya. Hal ini tentu selaras dengan motto Sampoerna Academy yaitu, learn today lead tomorrow.



[1] Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perpustakaan Nasional tahun 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar