Kamis, 13 Desember 2012

Balutan Sutra Jagadhita di Dusun Timbul


Oleh:
Ni Luh Komang Surminiari

P
agi yang begitu cerah diiringi alunan musik khas Bali seperti biasa mengawali aktivitas pagi masyarakat dusun Timbul. Timbul, daerah ini mungkin terdegar masih begitu asing bagi anda sekalian. Timbul merupakan sebuah banjar[1] yang merupakan bagian dari Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Dusun Timbul merupakan dusun dengan sejuta keindahan terpendam, namun belum begitu dilirik oleh para pelancong Bali. Ditengah padatnya pariwisata Bali, Timbul muncul sebagai sebuah destiny pariwisata yang masih mencerminkan Ajeg Bali. Keseharian masyarakat Dusun Timbul memang tak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kearifan lokal serta budaya Bali. Tri Hita Karana, Duenang Sareng, serta Paras Paros masih menjadi landasan hidup masyarakat Dusun Timbul. Tradisi Maprani serta Matugtugan menjadi tradisi khas dusun ini yang tak dimiliki oleh satu daerah lain pun di Pulau Bali.
Masyarakat Timbul Mengucap Syukur
Krama desa[2] dusun Timbul merupakan masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi norma serta nilai-nilai kearifan lokal. Bagaimana tidak, ritual-ritual bernuansa Hindu tak pernah luput dari keseharian masyarakat dusun Timbul. Mulai dari mebanten saiban di pagi hari sampai dengan mebanten pada sore hari sebagai ungkapan rasa syukur warga terhadap limbahan anugrah yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi terhadap segala aktivitas yang mereka lakukan seharian itu. Tingkatan upacara agama yang lebih tinggi seperti piodalan[3] juga rutin diadakan setiap 2 bulan sekali baik di pura kecil maupun di pura agung.
Terlepas dari itu semua, dusun Timbul juga memiliki ritual khasnya tersendiri yang tak dimiliki oleh satu daerah lain pun di Bali. Sebut saja salah satu diantaranya adalah Maprani. Maprani merupakan salah satu ritual khusus yang dilakukan oleh masyarakat dusun Timbul pada saat piodalan di Pura Dalem Kauh. Puncak atau wali dari piodalan di Pura Dalem Kauh adalah bertepatan dengan Tilem Katiga. Biasanya, sehari setelah upacara wali, umat Hindu dusun Timbul melaksanakan upacara wayon atau upacara penutupan acara. Akan tetapi berbeda halnya dengan upacara satu tahunan ini. Piodalan di Pura Dalem Kauh tidak diikuti dengan upacara wayon, namun melakukan suatu ritual yang disebut Maprani. Upacara ini dilaksanakan di penataran pura dimana krama desa berkumpul sambil membawa sebuah banten khusus sembari menunggu pemangku maweda “ngaturang piuning”. Setelah pemangku selesai maweda, krama desa langsung ngaturang pepranian (Meprani) yang mana krama desa saling lempar-melempar banten yang mereka bawa antara satu orang dengan orang-orang yang lainnya. Ritual ini merupakan simbol pemberitahuan telah selesainya suatu upacara agama.     
Hampir sama dengan ritual Maprani di Pura Dalem, Pura Penataran Kangin di dusun Timbul juga mempunyai ritualnya tersendiri. Matugtugan, itulah ritual rutin yang dilaksanakan masyarakat dusun Timbul setiap piodalan di Pura Penataran Kangin tepatnya pada Purnama Kapat. Ritual ini merupakan ritual saling pukul antara pemuda atau biasanya dilaksanakan oleh sekaa baris dengan menggunakan batang pohon ”bongkot”.  Meskipun ritual ini dilaksanakan sebelum upacara pujawali[4], namun ritual ini merupakan perayaan dari suksesnya sebuah upacara piodalan. Semua ritual-ritual tersebut merupakan ungkapan rasa syukur yang teramat dalam oleh karma desa setempat atas luapan anugrah yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sejuta Sejarah Sejuta Panorama
Panorama Dusun Timbul
Dusun Timbul terletak di Desa Pupuan yang berbatasan langsung dengan Desa Sekaan Kecamatan Kintamani. Di Sebelah barat dusun ini berbatasan dengan Desa Sebatu sedangkan Desa Manukaya Kecamatan Tampaksiring menjadi batas sebelah timur sekaligus batas sebelah selatan dari dusun ini. Letak dusun ini kurang lebih 20 km dari Ubud serta dapat ditempuh selama 30 menit dari kota Gianyar. Letak Dusun Timbul yang bersebelahan dengan daerah Kintamani membuat hawa dingin pegunungan Kintamani masih begitu terasa. Dusun seluas 800 hektar ini memiliki lebih dari 200 petak persawahan. Sungai-sungai yang mengalir di tepi jalan dengan air alami yang mengalir langsung dari pegunungan membuat suasana pedesaan masih sangat melekat dengan suasana di dusun ini. Dari tebing-tebing di Dusun Timbul dapat terlihat jelas panorama menakjubkan dusun ini dengan hamparan sawah sepanjang jalan dimana pura-pura kecil juga terselip ditengah-tengahnya. Sebelah selatan dusun ini merupakan komplek persawahan warga yang oleh masyarakat Timbul sendiri diberi nama Tangkas. Tak heran jika setiap harinya banyak toris mancanegara yang menjadikan dusun ini sebagai salah satu rute perjalanan bersepeda mereka dari jalur Penelokan. Sistem pengairan sawah atau yang biasa disebut dengan sistem “Subak” juga masih berjalan baik di dusun ini. Bicara tentang sistem subak, pada tahun 1999 dusun ini dirundung duka oleh bencana tanah longsor yang menimpa 35 krama subak dusun Timbul yang pada saat itu sedang memperbaiki saluran irigasi. Sampai saat ini peristiwa tersebut masih terkenang oleh masyarakat Gianyar khususnya masyarakat Dusun Timbul terutama oleh mereka yang kehilangan sanak saudara pada peristiwa tersebut. 
Dusun yang sarat akan nuasa Hindu ini juga menjadi salah satu dusun yang memiliki pura terbanyak di Kabupaten Gianyar yaitu sejumlah 35 pura. Diantaranya adalah Pura Khayangan Tiga, Pura Gunung Sari, Pura Pucak, Pura Nataran Merta, Pura Penataran Kangin, Pura Kemit, Pura Catur serta masih banyak lagi pura-pura lainnya. Tak seperti dusun lainnya, dusun ini mempunyai 2 Pura Dalem, yaitu Pura Dalem Kangin dan Pura Dalem Kauh. Puluhan tahun yang lalu, dusun ini hanya mempunyai satu pura dalem dengan setranya yaitu Pura Dalem Kangin. Akan tetapi, mengingat letak pura ini yang cukup jauh dari pusat pemukiman masyarakat maka dari itu setra dusun ini dipindah ke pemukiman warga yang lebih ramai. Hingga sampai saat ini, Pura Dalem di dusun ini dibagi menjadi dua yaitu Pura Dalem Kangin serta Pura Dalem Kauh dengan setranya yang terletak di Pura Dalem Kauh.
Salah satu pura yang menjadi daya tarik di dusun ini adalah Pura Gunung Sari yang beberapa tahun yang lalu telah diresmikan sebagai Cagar Budaya Gunung Sari. Pada bagian tegah pura atau yang biasa disebut dengan Madya Mandala terdapat sekitar 4 sarkofagus serta benda-penda peninggalan sejarah lainnya. Oleh masyarakat Dusun Timbul sendiri, sarkofagus tersebut dipercaya sebagai sarkofagus dari dukuh-dukuh atau pendeta yang dulunya bermukim di Dusun Timbul sebelum zaman kerajaan. Peninggalan sejarah tersebut banyak ditemukan di rumah-rumah penduduk puluhan tahun yang lalu.
Tak hanya itu, Pura Desa yang merupakan bagian dari Pura Khayangan Tiga di dusun ini juga mengandung begitu banyak kisah-kisah historis dengan warisan sejarah yang masih tersisa di Pura ini. Pada bagian utama mandala dari pura ini terdapat arca-arca peninggalan sejarah berupa arca-arca dewa. Akan tetapi, beberapa dari arca-arca ini bagiannya tak masih utuh serta telah banyak yang lapuk. Hal ini tak terlepas dari minimnya kemampuan masyarakat dalam memelihara peninggalan sejarah tersebut karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat. Akan tetapi, belakangan ini arca-arca tersebut telah dijadikan sebagai bahan penelitian oleh para ahli antropolog.
Masyarakat Timbul Masih Setia dengan Bali.
Suasana nak Bali masih begitu tergambar jelas pada keseharian masyarakat dusun Timbul. Pertanian pun masih menjadi panglima perekonomian di dusun ini, meskipun banyak masyarakat yang menjadi pengrajin untuk mengisi waktu luang mereka. Meski hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan, namun para pemuda dusun Timbul cukup telaten dalam membuat produk pariwisata seperti merchandise khas Bali. Kehidupan sosial masyarakatnya pun masih begitu harmonis antarsatu dengan yang lainnya. Hubungannya begitu erat seakan tanpa batas, meski tak dapat dipungkiri stratifikasi sosial berdasarkan sistem Catur Wangsa masih menjadi awig-awig yang tak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat Bali. Meskipun dusun ini dihuni oleh masyarakat Hindu, namun sama sekali tak ada perselisihan antara nak Bali dengan nak Jawa di dusun ini. Nilai Salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya; suatu nilai sosial tentang perlunya kebersamaan antara satu dengan yang saling menghargai dan menghormati masih menjadi pedoman hidup masyarakat Dusun Timbul menuju Bali Jagadhita.
Masyarakat dusun Timbul merupakan cerminan dari masyarakat Bali tempo dulu yang masih memegang teguh konsep menyama braya serta terkenal dengan ramah-tamahnya. “Saling makejitan”, itulah yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Timbul saat bertemu dengan masyarakat yang lainnya. Ngayah di pura-pura setempat merupaka acara rutin dari sekaa truna truni Dharma Bakti, sebelum diadakannya upacara di pura tersebut.
Suasana “Bali” juga dapat dilihat dari rumah-rumah penduduk yang masih mengandalkan arsitektur Bali. Konsep Tri Mandala masih dipegang teguh oleh masyarakat seperti adanya Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh serta Paon dalam satu pekarangan. Beberapa rumah penduduk di dusun Timbul juga sering disinggahi oleh toris-toris yang melakukan tour bike. Rumah-rumah tersebut menjadi daya tarik karena desain rumahnya yang masih sangat mencerminankan desain Bali Kuno serta kehidupan dari keluarga itu sendiri yang masih begitu “Bali”.



[1] Organisasi sosial masyarakat (bagian dari wilayah desa)
[2] Anggota desa
[3] Upacara agama Hindu di pura
[4] Upacara puncak pada suatu upacara agama Hindu

Minggu, 09 Desember 2012

Pemimpin dan Inovasi



“Segala sesuatu berubah, tak ada yang kekal, yang kekal hanyalah perubahan itu sendiri”. Demikianlah seorang filsuf terkenal Yunani mencoba mengungkapkan bahwa tak ada satu hal pun yang pasti di dunia ini kecuali perubahan. Perubahan terjadi setiap saat, bahkan setiap detik. Kunci utama untuk menjawab tantangan perubahan tersebut adalah inovasi. Dimana ada suatu inovasi, disitulah sosok seorang pemimpin muncul. Pemimpin dan inovasi adalah dua hal yang harus selalu berjalan beriringan. Di sinilah, kecerdasan melihat masa depan menjadi kebutuhan yang teramat penting dalam mencapai kesuksesan seorang pemimpin.
           Innovatif juga merupakan salah satu butir dari Nine Core Value of Sampoerna Academy SMAN Bali Mandara. Sekolah dengan visi  “creating future leader with strong moral values, life skills and an awareness of environmental and global issues” ini merupakan salah satu sekolah di Bali yang begitu mengedepankan nilai-nilai kepemimpinan dengan tujuan utamanya dapat mencetak pemimpin masa depan dengan kepedulian terhadap isu global serta pemikiran dengan inovasi tinggi.
Satu dari sekian banyak wujud inovasi serta kesadaran terhadap isu global siswa-siswi SMAN Bali Mandara tersebut adalah adalah melalui karya tulis ilmiah. Melalui karya tulis ilmiah para siswa dapat menuangkan semua ide-ide kreatif serta inovatif mereka. Seperti yang kita ketahui, isu global yang saat ini benar-benar berada pada puncak ketenarannya adalah back to nature. Salah satu subbab penting dari isu ini adalah pemanfaatan limbah serta pengembangan sumber energi terbarukan. Berbagai karya luar biasa dalam bidang pengembangan energi terbarukan telah banyak tercipta dari pemikiran-pemikiran kreatif serta inovatif siswa dan siswi SMAN Bali Mandara. Salah satunya adalah hasil karya dari kelompok karya tulis siswa SMAN Bali Mandara “Smanbara Young Scientis Club” yang pada bulan Oktober lalu sukses meraih prestasi pada Lomba Karya Inovasi yang diadakan oleh PT (Persero) PLN Distribusi Bali. Dalam lomba dengan katerogi umum ini, 3 kontingen dari SMAN Bali Mandara berhasil menjadi finalis 10 besar dan bersaing dengan peserta lain yang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa serta dosen. Kontingen SMAN Bali Mandara dengan judul karya tulis “Pemanfaatan Kotoran Manusia di Asrama SMAN Bali Mandara menjadi Biogas dengan Metode Biodigester” meraih juara kedua yang diwakili oleh Viona Damayanti, Rama Wijaya serta Govinda Orna Jaya. Ide yang begitu kreatif ini muncul mengingat semakin diperlukannya pengembangan energi alternatif yang mana bahan bakunya juga sangat melimpah di asrama SMAN Bali Mandara. Sedangkan kontingen kedua yang diwakili oleh Linda Permitasari, Lilis Sinta serta Dewi Mahayani sukses meraih peringkat ketiga. Ide inovatif dari karya tulis yang berjudul “Pembangkit Listrik Tenaga Hidrogen Dengan Metode Hidro-Electricity untuk Mengembangkan Sumber Energi Listrik di Kecamatan Kubutambahan” ini didasarkan pada pemikiran sulitnya akses listrik di beberapa daerah di Kubutambahan. Meski hanya berhasil menjadi finalis, namun kontingen ketiga yang diwakili oleh Surminiari dan Retno Fitriandari juga tak kalah inovatif dengan karyanya yang berjudul “Efisiensi Briket Biodegradable dari Limbah Organik sebagai Energy Alternatif menuju SMAN Bali Mandara GREAT (green, share, care, clean and healthy)”. Karya tulis ini lebih memfokuskan pengembangan energi alternatif sebagai solusi dari langka serta mahalnya bahan bakar dewasa ini mengingat bahan baku limbah organik dari briket itu sendiri yang begitu melimpah pada 10 hektar luas areal SMAN Bali Mandara. Jelas dapat kita lihat bahwa karya-karya tersebut didasarkan pada kepedulian siswa-siswi SMAN Bali Mandara terhadap lingkungan kecil sekitarnya. Akan tetapi, inovasi tersebut tidak hanya akan bermanfaatan bagi daerah lokal Kubutambahan maupun Buleleng, namun juga akan sangat bermanfaatan bagi lingkungan global. Hal tersebut tentu selaras dengan salah satu kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu “think global, act local”.
Inovasi dan kreatifitas tentu secara terus menerus akan mebawa perubahan yang baik bagi seorang pemimpin serta negeri ini. Kepedulian akan lingkungan yang diimbangi dengan inovasi merupakan salah satu kebutuhan vital ditengah krisis kepemimpinan yang melanda tanah air. Melalui penulisan karya ilmiah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepekaaan siswa terutamanya siswa-siswi SMAN Bali Mandara terhadap isu global. Sehingga di kemudian hari nanti dapat diciptakan pemimpian yang peka terhadap segala perubahan, sehingga dapat memunculkan suatu inovasi yang dapat menjawab tantangan perubahan tersebut.  (Surminiari/SMAN Bali Mandara)

Leadership Camp, Wahana Belajar Sang Pemimpin




“Kepemimpinan”, kata yang terdengar begitu menakutkan bagi bangsa kita, Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia kini telah dibayangi oleh krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan yang begitu hebatnya. Kepemimpinan yang pada dasarnya bermakna seni untuk mempengaruhi serta memotivasi orang lain kearah yang lebih baik justru malah disalahartikan oleh para pemimpin bangsa kita. Ketiadaan karakter pemimpin yang mampu mengatasi konflik negeri ini merupakan bukti nyata krisis kepemimpinan di tanah air. Asas utama dari kepemimpinan pancasila; Ing Ngarsa Sung Taladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani bak teori-teori lama yang tidak senada dengan derasnya arus globalisasi. Gelar hebat yang disandang para pemimpin tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk dapat menumbuhkan karakter keteladanan dalam dirinya.
Learn Today, Lead Tomorrow”. Begitulah motto dari Sampoerna Academy yang tak pernah henti-hentinya diteriakkan oleh para calon pemimpin masa depan kita, siswa dan siswi Sampoerna Academy. Sekolah yang mengemban visi “To creting future leader with strong moral values, life skills and awareness of environmental” ini merupakam sekolah yang memiliki cita-cita mulia untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan yang berkarakter sehingga dapat menciptakan suatu kondisi yang selaras, serasi dan seimbang bagi rakyatnya. Leardership course merupakan salah satu program dalam kelas yang bertujuan untuk memberi materi kepemimpinan kepada para siswa agar dapat memahami karakter dirinya masing-masing serta lingkunyannya. Selaras dengan kursus kepemimpinan tersebut, pelajaran budi pekerti dan pendidikan kewarganegaraan juga merupakan mata pelajaran yang tak dapat dipisahkan dari dalam diri seorang pemimpin. Akan tetapi, bukankah tak susah mencari seorang pemimpin dengan nilai budi pekerti serta pendidikan kewarganegaraan yang tinggi?. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa kepemimpinan bukalah sekedar teori namun lebih pada aplikasinya di kehidupan sehari hari.
Proses dalam mendidik remaja menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Seperti yang kita ketahui, remaja adalah masa yang penting untuk dilewati secara sukses khususnya secara psikologi. Memahami siswa haruslah dimulai dengan memahami siapa siswa tersebut dan bagaimana dunia siswa tersebut. Karakter remaja sangatlah bervariasi akibat banyaknya persoalan dan pilihan yang dihadapi. Selain dengan pemberian materi kepemimpinan dalam kelas, training atau pelatihan kepemimpinan tentu menjadi hal yang sangat diperlukan.
Leadership camp, salah satu acara rutin yang diadakan Sampoerna Academy dengan tujuan mendidik generasi muda khususnya siswa-siswi Sampoerna Academy yang mandiri, kreatif dan tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Pelatihan ini terasa begitu aplikatif karena dapat membentuk karakter kepemimpinan siswa melalui berbagai kegiatan outdoor yang sangat sesuai dengan dunia remaja. Leadership camp ini dapat memberikan manfaat bagi siswa yaitu pengenalan karakter diri sendiri, orang tua dan teman, penerimaan kondisi diri secara positif, pengenalan dan penggunaan bahasa tubuh, meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, menumbuhkan konsep diri positif, dan pengembangan sikap dan budaya asertif. Disamping itu kegiatan dalam leadership camp secara tidak langsung memberi pelajaran kepada siswa mengenai pengelolaan stress, memimpin diri sendiri dan orang lain, meningkatkan kecerdasan emosi, kemampuan menentukan pilihan, melihat potendi, bakat dan minat siswa serta mengasah kepemimpinan dan entrepreneursip. Pada akhirnya, program ini akan berkontribusi besar kepada para siswa, sebagai para pemimpin masa depan dalam menjawab tantangan dunia luar. (Marik)